Tipe Pria Berdasarkan Cara Pipis

Tipe Pria Berdasarkan Cara Pipis!! cerita humor lucu

Galau

Sore ini seperti sore yang lainnya. Sore yang biasanya ku lewati hanya dengan secangkir kopi di tempat tongkrongan ku biasa. Namun keadaan berubah seketika saat awan menjadi gelap dan suara petir menggelegar dengan kerasnya dan pertanda bahwa akan turun hujan yang lebat.

Mengapa Cincin Pernikahan ditaruh di Jari Manis

Inilah alasan mengenai mengapa cincin pernikahan ditaruh di jari manis.

Tanda-Tanda Orang Yang Akan Meninggal

Tanda-tanda orang yang akan meninggal.

Free Download Malam Minggu Miko

Free download malam minggu miko.

Senin, 17 Februari 2014

Maaf terakhir

Remuk hatiku harus terima semua luka
Luka yang ku buat membuat kita berakhir pisah
Dalam diam ku mencoba lapangkan dada
Memang salah ku kini telah berbuah

Memang sesal selalu datang di saat semua berakhir
Hingga menyadarkan bahwa semuanya sangat berarti
Mencoba mengulang semua dalam benak ku terpikir
Namun apakah maaf terakhir itu bisa kau beri?

Tak ingin dalam benak ku kau terpaksa
Biarkan semua rasa yang mengganjal biar tertinggal lah sudah..
Semua kesalahan biarlah menjadi pelajaran
Ku mohon kau menerima maaf terakhir yang kuucapkan

Maafkan aku :)

Rasa sesal

Apa yg ku rasa?
Jantung ku berdegup kencang tak karuan
Keringat ku bercucuran di malam tg begitu dinginnya
Memikir sesal yg bagaikan menjadi kenyataan

Bagaimana maaf agar ku bisa luluhkan hatimu
Aku hanya bisa hadir dalam pesan singkat karena jarak yg memisahkan
Apa yg bisa ku perbuat untukmu
Hanya bisa diam dan merasakan pahit luka yang tak bisa ku katakan

Bila ku bisa memiliki pilihan maaf yang terakhir
Takkan ku sia siakan diri mu
Krn memang dirimu yang selalu terpikir
Hanya kamu yang selalu ada dalam relung hati ku

Jumat, 14 Juni 2013

Judika - Kau Masih Milikku (lirik dan download)

Aku yang pertama tau
siapa dirimu, siapa namamu
O... aku telah mengenalmu
Dan tau hatimu lebih dari s'galanya


Jangan katakan kau tak cinta lagi
Jangan katakan kau tak sayang lagi
Jangan pergi dariku tinggalkan rasa cintamu
Karena kamu butuh masih milikku

Dia coba merebutmu
Mungkin kau tak tau kamu itu milikku o...
Aku tak pernah peduli
Yang kuingin hanya kamu slalu di sini

Jangan katakan kau tak cinta lagi (cinta lagi)
Jangan katakan kau tak sayang lagi
Jangan pergi dariku tinggalkan rasa cintamu
Karena kamu butuh masih milikku ye...o...

Jangan katakan kau tak cinta lagi
Jangan katakan kau tak cinta lagi
Jangan katakan kau tak sayang lagi
Jangan pergi dariku tinggalkan rasa cintamu
Karena kamu butuh masih milikku....ye...
Karena kamu butuh masih milikku


Download di sini.. klik judul lagunya yaa..

Geisha - Lumpuhkan Ingatan (Lirik dan Download)

Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya, cobalah bertanya pada semua
Di sini ku coba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang ku rasakan
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku

Untuk Download nya klik disini via gudanglagu[dot]com

Kamis, 13 Juni 2013

Penghuni Gedung Tua Final

“Ehm… kalian asal masuk saja ?” tanya dukun itu. Mereka mengangguk pelan, “bodoh ! Penghuni gedung itu marah pada kalian lantaran kalian masuk tanpa izin…!” dukun itu melanjutkan.
“Terus gimana ?” tanya Aldi. “Kalian… harus datang ke gedung itu lagi… malam ini, waktunya sama saat tadi malam kalian ke gedung itu !” kata dukun itu. “Memangnya ada perlu apa kita kesana ? Dan harus malam ini, mbah ? tapi kan-” belum sempat Gladies meneruskan kalimatnya, sang dukun bicara, “atau nyawa kalian bisa terancam…” “What ?” gumam Melly. “Gue takut, say…” Fanes bergumam pada Defri, dan dia merangkulnya. Mata Gladies berkaca-kaca.
. . .
            “Oke-oke… sekarang kita gedung itu… ini resikonya…” ucap Baim pelan, sambil menunjuk gedung tua tersebut, jam 11.45. “Gue takut…” kata Fanes pelan. “Kita gak akan kenapa-kenapa… kita harus optimis !” lanjut Baim. “Oke… Kita sama-sama… jangan ada yang plencar…” ujar Aldi. “Lo jangan jauh-jauh dari gue ya…” tambahnya pada Melly. Melly tersenyum dan mengangguk.
            Tak lama, mereka sudah memasuki gedung itu dan masuk kedalamnya. “Eh tunggu, sebenernya kita ngapain kesini ? kan waktu itu pertanyaan gue belom dijawab ma dukun itu… Kita dikerjain kali…” Gladies berkata. “Halah udahlah, kita minta izin dulu sama penghuninya… kasih bunga kek… kemenyan…sesaji gitu” balas Aldi. “Bunga ? Lo pikir mau nembak pacar, kasih bunga segala…?” celetuk Baim.
“Ssst… diem deh… kayak ada suara…” ucap Melly. Semuanya mendengarkan dengan seksama. “Suaranya makin deket…” bisik Baim. Semakin dekat, semakin dekat dan dibelakang Fanes berhenti. Mereka semua menoleh perlahan, meeoow… “Aaaaa….!” Teriak sebagian dari mereka karena kaget.
“Hey, cuma kucing…” Melly menenangkan. Mereka melanjutkan menyusuri lorong kedua.
“Gue gak betah nih… dingin banget…” gerutu Fanes. “Gue tau… tapi lo jangan berisik donk…” Defri membalas. “Gandeng tuh, Def si Fanes…” celetuk Razta, tak ada sahutan. “Def… Def… Defri…” katanya lagi, lalu menoleh ke belakang. “Lho, Defri ma Fanes mana ?” tanyanya kebingungan. Semuanya menoleh. “Lho… kok hilang… Tadi kan ada di belakang…” ujar Gladies.
“Ah, udahlah… paling juga keluar… mereka kan penakut…” sahut Aldi, sewot. Melly langsung menginjak kakinya, “gitu-gitu temen kita juga…” bisiknya.
            “Nih kita dimana, say…? Kok Aldi cs pada hilang ?” tanya Defri pada Fanes yang sama-sama takut. “Gue juga gak tau… perasaan tadi ada didepan kita ya sebelum kita hadap belakang…?” ucap Fanes pelan. Lalu mereka mendengar suara perempuan tertawa disekitar mereka, “suara apa tu Def, gue takuuut…” bisik Fanes. Jantung mereka berdetak kencang. “Insting gue gak enak, nih…” lanjut Fanes, matanya berkaca-kaca.
“Emang lo hewan, pake insting segala…” gumam Defri. Tiba-tiba Defri menghentikan langkahnya, lantaran dia melihat sesosok wanita berbaju putih berdiri dipojok ruangan. “Say… Lihat deh…” ucapnya gemetar, Fanes memberanikan diri untuk maju dan melihat wanita itu. “Kun… tilanak kali, say…” gerutunya, lalu berpaling pada Defri. “Lari…!” kata Defri, lalu mereka berlari, mencari jalan keluar.
            “Ta, gue kebelet…” bisik Gladies pada Razta, berjalan di belakang Aldi, Baim dan Melly. “Kebelet apaan…?” tanya Razta, bingung. “Pipis…” jawab Gladies pelan. “Duuh, tahan dulu deh… bentaran lagi…” gumam Razta.
“Gak bisa… udah dari tadi soalnya… Ehm, gue tadi lihat kayak pintu kamar mandi di belakang sana… anterin yuuuk…” ucap Gladies.
“Ya udah deh, Ta… anterin sono, kita tunggu disini…” Melly menambahi.
“Hemm, ya udah deh… yuuuk…” kata Razta, lalu dia dan Gladies menuju kamar mandi yang tadi dilihat Gladies. “Bentar ya…” kata Gladies setelah sampai di depan pintu kamar mandi. Lalu dia masuk, setelah selesai kencing, dia mengaca sebentar, menyisir rambutnya. Dia merasa ada yang berdiri di belakangnya, lalu dia menoleh. Tak ada siapa-siapa. Dia mempercepat menyisir, lalu menuju ke pintu. “Udah ?” tanya Razta, Gladies mengangguk. Mereka berjalan menuju Aldi cs. … . “Eh, tunggu… tadi kayaknya mereka disini deh… kok gak ada…” gumam Razta. “Kita ditinggal donk,” sahut Gladies. “Aldi…!” Razta memanggil, tak ada sahutan. “Lama banget sih si Gladies…?” gumam Melly, melihat jam tangannya, 12.10. “Iya, gimana nih ?” “Ya udah… kita tinggal aja ya… biar cepet…” jawab Baim. “Lho, ntar mereka gimana ?” tanya Melly, “Udahlah… pasti mereka tau jalan keluarnya donk… yuk ah,” sahut Aldi, lalu mereka melanjutkan berjalan. Sesaat kemudian, mereka memasuki sebuah ruangan yang luas, seperti aula.

“Gue penasaran… gedung ini kan tingkat… tapi dari tadi gue gak lihat tangga atau lift…” gumam Aldi, “iya ya… eh, itu dia…!” sahut Melly, Aldi menoleh. “Oh…” Lalu Aldi menaiki 4 anak tangga, dia mendengar sesuatu di atas. Namun saat dia menoleh ke bawah, Melly dan Baim tidak ada, dia sendirian. “Lho… beb… Baim…!” dia memanggil. “Kemana mereka ? Sialan gue ditinggal sendiri…!” lanjutnya.
“Aldi mana, Mel…?” tanya Baim, memandang Melly yang sedang melihat ke atas. Melly pun menoleh. “Gelap.. Tadi dia naik tangga disana…” jawabnya, menunjuk tangga yang tadi dilihatnya. Tapi, saat itu juga tangga itu lenyap. “Tangga yang mana ?” tanya Baim. “Lho… tadi disitu ada tangga kok…” Melly ngeles. “Serius lo ?” Baim penasaran, mendekati tempat yang ditunjuk Melly, dan Melly mengangguk. Semakin dekat… dan zleeep ! Sesook pocong muncul dihadapan Baim. Baim kaget setengah mati dan berteriak, begitu juga Melly yang dibelakangnya. Baim berpaling, ingin menjauhi pocong itu, tapi… tak terasa tali sepatunya terinjak oleh sang pocong.
“Tolong…! Biarin saya lepas… Saya masih muda… lepaskan saya ! Ampuuun…” katanya, berusaha untuk berlari. Melly sudah berlari duluan, jauh didepannya. Tiba-tiba pocong itu hilang. Baim pun berlari menjauh.
            Defri dan Fanes bertemu dengan Razta serta Gladies. “Heh… kita misah sama Aldi… Lo dari mana ?” tanya Defri. “Kita juga… Tauk tuh anak kemana…” sahut Razta, merangkul Gladies yang ngos-ngosan.
“Sumpah tempat ini serem banget…!” kata Fanes, merinding.
“Kita harus cari jalan keluar secepatnya… gue udah gak tahan…!” ucap Gladies.
“Oke… tapi Aldi, Melly ma Baim gimana ?” ujar Defri, “ah, paling mereka juga udah tau, kalo mereka emang harus pergi dari sini…! Biarin aja deh… gue tau, mereka pasti bisa lolos ntar… apalagi kanada Aldi” Razta menjelaskan. “Ya udah…” kemudian mereka berjalan, mencari jalan keluarnya. Tiba-tiba, bulu kuduk mereka berdiri. “Firasat gue gak enak…” bisik Gladies pada yang lain. Mereka menoleh, dan melihat tuyul yang berdarah didepan, kuntilanak yang berjoged disamping, dan sosok hitam dibelakang mereka. Mereka terkunci di dinding, dan berteriak, “aaaaaaaa !”
. . .
            Aldi berada di lantai 2 gedung itu. Tempatnya berantakan, sangat berdebu. Dia mendengar ada yang bergerak di ujung ruangan, dan dia segera menghampirinya. Sebuah bola menggelinding kearahnya, dan dia mengambilnya. Tiba-tiba bola itu berubah menjadi sebuah kepala manusia yang berdarah, dia kaget setengah mati dan membuangnya. Kepala itu lenyap. Ketika dia menoleh, sesosok bertubuh besar, hitam dan berbulu menghadangnya. “Aaaa…” Aldi berteriak, sosok itu menusukkan pisau di dada Aldi.
            “Mel… Di…! Dimana lo ?” teriak Baim, berjalan menyusuri lorong sempit. Dan dia mendengar teriakan sahutan, “Baim… gue disini…!” Melly yang berteriak. Baim segera menghampiri asal suara itu, ada didalam sebuah ruangan yang terkunci. Baim mendobrak pintunya. “Aahgrgr…” teriaknya, memegangi bahunya yang kesakitan. “Mel, dimana lo ?” lanjutnya, dan melihat sesosok perempuan mirip Melly dari belakang. Baim mengira itu Melly, dan… “hey, Mel…” ucapnya, perempuan itu menoleh, mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Baim ketakutan, ingin berteriak tapi tak bisa, seperti batu kedondong mengganjal mulutnya. Dia berlari, “Baim…!” Melly berteriak lagi, Baim membalas, “lo dimana ?” “Disini… Lo cepetan sini… Ini, kayak ruang bawah tanah…” teriak Melly, baim segera menyusulnya. Membuka pintu di ujung lorong, dan menemukan Melly.

Mel… lo gak apa-apa kan ?” tanyanya.
Melly menggeleng, berkeringat. “Kita harus keluar dari sini… Lihat deh…! Itu kayak sesaji…” sahut Melly, Baim memandang kumpulan sesaji itu, “iya… eh, itu bukannya dukun yang kita hampiri waktu itu, jangan-jangan,” Baim berbisik. Tiba-tiba, Melly seperti dicekik lehernya, dan dia terangkat, jauh dari lantai. “Aaaa !” teriaknya. “Mel…” “Baim, tolong !”
“Lepasin dia ! Sakiti gue aja ! Tapi jangan Melly… hoiii ! Lepasin dia !” Baim berteriak ke atas. Lalu Melly terjatuh, nafasnya ngos-ngosan, ketika Baim akan menghampiri, tiba-tiba giliran dia yang terangkat, lehernya dicekik, Baim berteriak.
“Baim…!” teriak Melly.
“Mel, lari… pergi dari sini…!” balas Baim.
“Baim…! Gak, lepasin Baim…! Bunuh gue aja, tapi jangan Baim… tolong !” kata Melly, hampir menangis. “Mel,” ucap Baim tertahan. Baim pun terlempar jatuh, dia terbatuk. Sejenak mereka mendengar suara, “bingung nih ! sebenernya siapa sih yang rela dicekik ?! yang cewek atau cowok ?!” Melly dan Baim bertatapan, tersenyum ragu. “Kita pergi sekarang,” bisik Baim.
            “Defriiii… Razta…!” teriak Fanes dan Gladies bersamaan, melihat Defri dan Razta terangkat jauh, hingga menyentuh ternit. Fanes melihat ke belakang, sosok hitam itu lenyap. Lalu Melly dan Baim datang, “hoiii !” kata Baim. “Baim, Defri ma Razta, diatas…” gumam Gladies, Baim dan Melly perlahan memandang ke atas, melihat Defri dan Razta kesakitan. “Dukun sialan !! Lepasin mereka !” teriak Baim, “dukun ?” Fanes penasaran. “Iya, dukun… ternyata provokatornya tuh si dukun itu…” Melly menjelaskan. Tak ada tanggapan. Tak lama kemudian, Defri dan Razta terlempar ke bawah. Wajah mereka pucat, lehernya sedikit berdarah. “Aaah, sakiiiit…” gumam Razta, “kalian pergi aja, kita udah gak kuat…” lanjut Defri.
“Gak, kita masuknya bareng, jadi keluarnya juga harus bareng…” sahut Baim. “Btw… Aldi mana, ya ?” tanya Melly, mereka berpandangan.
“Aldi mati…! Tadi pas gue terangkat keatas, gue lihat Aldi terkapar… penuh darah di atas…” jawab Razta, Melly terdiam, Baim segera memeluknya. “Sorry, say… gue udah gak kuat…” bisik Defri.
“Lo jangan ngomong gitu…” sahut Fanes, menangis. Defri memejamkan matanya, “kalian pergi aja… cepet… atau diantara kalian gak akan ada yang selamat… Please, turutin gue…” ucap Razta.
Sorry, Ta,” gumam Baim, lalu dia, Melly, Fanes dan Gladies pergi. Dengan duka yang mendalam.
            Kurang beberapa langkah lagi mereka keluar dari gedung itu, namun sesuatu menghadang. Sang dukun. “Mau kemana kalian ?” tanyanya pelan. “Heh, biarin kita pergi… Belum puas lo ngebunuh temen kita ?!” sahut Baim.
“Kalian gak akan bisa pergi… kalian adalah tumbal !” ucap dukun itu, dan tiba-tiba ketika Melly menoleh ke arah Fanes dan Gladies, mereka lenyap.
“Baim… Fanes ma Gladies mana ?” tanya Melly pelan. Baim menoleh, “lo kemanain mereka ?” tanyanya pada dukun itu. “Mereka adalah tumbal !! Begitu juga dengan kalian !” jawab sang dukun, tertawa. “Sialan lo !!” teriak Baim, lalu menghampiri sang dukun dengan kemarahan. Dukun itu menusukkan pisau kecil ke bahu Baim. “Baim !” Melly berteriak. Dengan menahan sakit, Baim mengeluarkan pisau itu dan menusukkannya pada dukun. “Aaaa !” teriak sang dukun, “kalian… akan… terim…a akibatnya… nan…ti” gerutu dukun itu, lalu meninggal. Melly menghampiri Baim, “ayo… gue bantu…” gumamnya. Darah Baim berceceran. Dia dan Baim meninggalkan gedung tua itu, berjalan dengan langkah yang terasa berat.
            “Tolooooong !!” teriak Fanes dan Gladies, mereka terkurung didalam gedung itu, tapi tak ada 1 orangpun yang tau. Bahkan Melly dan Baim sekalipun.
. . .
            “Thanks ya, Mel…” kata Baim keesokan harinya. Melly tersenyum. “Tapi seru juga ya… petualangan disana…” lanjut Baim. “Ngarang lo !! Kita kan kehilangan sahabat-sahabat kita…” jawab Melly. Baim memandangnya. Melly memandang keluar lewat jendela, dia kaget sekali melihat sosok dukun yang dikenalnya ada dibawah. Dia berpaling sebentar, lalu dukun itu menghilang.

SELESAI 

Penghuni Gedung Tua Part2

“Jangan bercanda ah, gak lucu tau gak…?!” sahut Defri, “Tapi gue gak bisa jalan…” balas Fanes. Mereka menoleh ke belakang bersamaan, mulutnya telah siap untuk berteriak, sampai… “Oh, ternyata ke injek sendiri… Sorry sorry, say… gue gak tau…” kata Fanes, nyengir. “Tuh kan… Talinya malah lo injek ndiri… Makanya kalo jalan tuh lihat-lihat donk !” ucap Defri. Tiba-tiba… sekelebat bayangan hitam muncul dihadapan mereka, mereka berteriak kencang. “Aaaaaaa !!! Setaaaan !!” Lalu keduanya berlari, menuju gerbang.
            “Lo denger ada teriakan gak tadi…?” tanya Gladies, yang sedang mengamati dinding-dinding disampingnya. “Halah, perasaan lo aja… Lupain…” kata Razta. Tiba-tiba, Gladies mendengar suara kemresek pelan di suatu pintu disampingnya. “Ta, dengerin deh…” katanya, menyuruh Razta menghampiri.
“Apa ?” Razta juga mendengar suara itu, “Cuma angin… gak usah dipikirin…” jawabnya, wajahnya terlihat gelisah. “Ta, nih kan udah tengah malem… Biasanya kalo udah tengah malem… setan-setan pada keluar… Gue takut niih…” ujar Gladies, matanya berkaca-kaca.
“Udahlah… Lagian nih kan jam 12 lebih… Bukan tengah malem lagi…” jawab Razta, dia merasa ada yang lewat dibelakangnya, dia langsung menoleh. Hawanya terasa dingin. “Kok jadi dingin ya, Dies…?” katanya. “Ya iyalah… malem ini…” jawab Gladies. “Perasaan gue gak enak, Dies…” ucap Razta. “Jangan bercanda ah…!” Gladies menyahut. “Kayaknya ada sesuatu di belakang gue…” gumam Razta, berkeringat. Perlahan, Gladies memberanikan diri menoleh ke belakang. Jantungnya berdetak kencang saat sesosok bertubuh tinggi besar hitam berdiri membelakangi dia dan Razta. Gladies menatap Razta. “Ada apa ?” tanya Razta pelan.
“Gue nyerah, Ta… Kita balik yuuuk…” Gladies menggumam. Dan mereka menoleh ke belakang bersama. “Berarti kita kalah donk…” Razta bergumam. “Permisi, nggeh… amit-amiit…” ucap Razta pelan sambil membungkuk di belakang sosok itu, disusul oleh Gladies, berjalan cepat kembali ke pintu gerbang. “Serem juga ya punggung setan… gedhe…” gerutu Razta, mengelap keringatnya. Ketika akan keluar, Gladies melihat ada yang melambai ke arahnya, dia menoleh. “Hiiii….” katanya, memandang takut dan jijik sosok perempuan berbaju putih dipojok ruangan, wajahnya hancur ! “Ta, kalo jalan kapan nyampenya ? Lari aja deeh…” bisik Gladies, yang langsung berlari, “eh, tunggu…!” sahut Razta, ikutan berlari.
. . .
            “Barang-barang disini antik juga… dulunya tempat apa sih ini ?” tanya Melly pada Aldi yang sedang berdiri disampingnya. “M… dulunya sih, ini gedung kantoran… terus bangkrut, jadi pabrik gitu deh… Abiz itu, kalo gak salah sih ada kebakaran disini…” Aldi menjelaskan.
“Ehm, kebakaran ? Kok barangnya masih ada yang bagus ? Kok gak hangus ??” tanya Melly penasaran. “Tauk deh… ada yang bersihin kali…” jawab Aldi seenaknya.
“Ngarang lo !!” Tiba-tiba, Aldi merasa ada yang menepuk punggungnya. Dia langsung menoleh… kosong.
            Baim berhadapan dengan sebuah pintu, anehnya, sesaat dalam pintu itu selalu mengeluarkan suara. Baim mengumpulkan keberanian, dan mendekat. Telinganya mendengarkan dengan seksama. Bulu kuduknya berdiri. Bayangan putih lewat disampingnya. Dia menoleh, tak ada. Kemudian dia mencoba membuka pintu itu. … Tak lama kemudian, pintunya terbuka, dia merasakan hawa dingin berhembus dari dalam ruangan. Baim semakin masuk ke dalam, semakin dalam. Dia berpapasan dengan seorang anak kecil, duduk sendiri membelakanginya di ujung ruangan. Perlahan Baim mendekati, hingga… anak itu menoleh, mulutnya mengeluarkan banyak darah. Baim terdorong mundur, dan dia berteriak, berlari menjauh.
            “Ini jam berapa, Di ?” tanya Melly. “01.20…” jawab Aldi. Mereka mendengar teriakan, dan langsung menoleh. Dilihatnya Baim yang berlari menghampiri mereka. “Kenapa, Im ?” tanya Aldi, “setaan…” jawab Baim, berkeringat. “Ah, Di… Mel… Lebih baik kita keluar… Di belakang lo… Itu, ada… set, set, set… an….” Kata Baim, menunjuk sesosok pocong dibelakang Aldi dan Melly. Mereka menoleh, “Di… Gue takut…” gerutu Melly. Aldi langsung menggenggam tangannya. “Aaaaaaaa !!!” mereka berteriak dan berlari, keluar dari gedung itu.

            Siang hari, di tempat kos Aldi. “Ternyata, gak ada ya yang bisa tahan disana ampe 2 jam…” ucap Aldi, melamun diatas kursi dekat jendela. “Yang adain aja gak bisa…!” sahut Fanes, “ah, udahlah… yang penting kan kita masih selamat…” lanjut Gladies, sambil meneguk minumannya.
“Gila aja…! Gue disana lihat bayangan item, gedhe… didepan gue lagi…” kata Defri, “nah, gue lihat sosok gedhe, item, tinggi pula… nyeremin deh…” tambah Razta, “bukan cuma itu, kita juga lihat perempuan pake baju putih, wajahnya nyeremin…” Gladies menambahi.
“Mending ! Nah gue, udah ketemu tuyul, terus pocong pula !! Mrinding gue…” kata Baim, tak kalah seru. “Ngapain sih lo, Mel ? Daritadi diem mulu…” tanya Fanes yang melihat Melly sedari tadi memandang hpnya.
“M… sini deh, kalian lihat…” kata Melly, semua mendekatinya. “Pas gue, Fanes ma Gladies foto, tuh kan cuma bertiga… kalian lihat deh, dibelakang Gladies ada apanya…” Melly menjelaskan, Gladies dan Fanes merebut hpnya dan melihat foto itu. Jantung mereka berdetak kencang.
“Kayak… kuntilanak…” ucap Gladies pelan. “Masa sih ?” tanya Razta penasaran, lalu mereka memberikan hpnya. “Wah, iya niih… kayak mak kunti…” lanjut Defri.
“Mana sih… Lihat…!” ucap Aldi dan Baim, lalu… “Weew… beneran…! Mending hapus aja deh… dari pada kebayang terus… hapus gih…” kata Baim, memberikan hp itu pada Melly. Melly segera menghapusnya, tapi… “Duuh, kok eror ? Gak bisa dihapus… Eh, bentar-” ucapnya tertahan. Kemudian dia menghapus foto yang lain, bisa. Lalu kembali menghapus foto yang tadi, tapi tak bisa. “Gak bisa dihapus nih… gimana donk ? yang lainnya aja bisa dihapus kok…” gumamnya, sedikit ketakutan. “Eh, tunggu… kok ada foto yang lain… sumpeh, gue gak ngerasa punya foto ini…” lanjutnya.
“Foto apaan sih ?” tanya Aldi penasaran.
“Ini… set,setan…” jawab Melly pelan. “Serius lo ?” ucap Defri. Mereka berpandangan, jantung mereka berdetak kencang. Hawa dingin terasa di kamar itu. “jangan-janagn kita di terror…” Razta asal ceplos. “Gimana nih ? gue takut…” balas Fanes. “Gue kan udah bilang ! Kita tuh gak usah foto segala… Gini deh jadinya…!” bantah Melly pada Gladies. “Eh, jelas-jelas lo gak ngomong gitu ya !! Lo cuma ngomong, jangan foto bertiga ! Gak usah lebai deh…” Gladies membalas, tak kalah keras suaranya.
“Hey, udahlah !! Gak ada gunanya berantem !” Baim menengahi.
“Terus gimana ?” tanya Razta.
“Ini semua gara-gara lo, Di…! Lo kan yang punya ide gila buat di gedung itu…?!” Defri marah.
“Heh, lagian kan gue udah bilang waktu itu, kalo gak ikut juga gak apa-apa… Gak ada yang maksa !! Ya salah lo ndiri…!” Aldi membalas.
“Heh, udahlah !! Harus ya berantem terus ?!” Baim kembali menengahi. “Kalo emang bener di terror, sekarang gimana caranya kita lolos dari terror ini…?” lanjutnya. Ketika Melly akan mengambil minum di meja, tiba-tiba dia melihat sosok putih melewatinya, bulu kuduknya langsung berdiri, dia memejamkan matanya sejenak. “Kenapa, Mel ?” tanya Aldi. “Gak… gak… gak apa-apa…” jawabnya parau, lalu duduk disamping Aldi.
“Apa kita harus kesana lagi, buat minta izin ma penghuni-penghuninya… Waktu itu kan kita asal masuk aja…” ucap Razta. “Minta izin gimana ? Emang lo bisa ngomong ma setan ?” Aldi bertanya. “Minta bantuan dukun aja…” Defri memberi usul.
“Lo percaya dukun…?” tanya Gladies, “gak ada salahnya kan…” lanjut Defri. “Dukun ? M… gue ada sih kenalan dukun gitu…” Baim menambahi.
. . .

            “Gini lho mbah… kita itu kan kemarin malam masuk ke gedung tua dipojok jalan sana… Dan hari ini kita merasa kayak di terror, mbah… sama penghuni-penghuninya… gimana ?” Baim bertanya pada dukun itu, saat ini mereka berada dirumah sang dukun.

Penghuni Gedung Tua Part 1

“Aaaaa !!!” Melly dan kebanyakan penonton bioskop lainnya berteriak ketakutan saat sang hantu muncul. “Takut ya, beb?” tanya Aldi, cowok Melly, sambil menggenggap tangannya. “Ya iyalah, masa ya iya donk… lo tau gue tadi teriak…” jawab Melly, masih serius menonton. “Hmm… Katanya suka horror… Tau gini, napa tadi milih yang horror ?” ujar Aldi.
“Keberatan ?” tanya Melly, sinis.
“Nggaaak…” “Kok sewot ?!” lanjut Melly.
“Halah… gitu aja ngambek…!” sahut Aldi. “Ssst…! Kalian tuh berisik aja…! Dieeem…” kata Razta pada Melly dan Aldi. “Berantem ya ?” tanya Gladies, asal nyambung. “Tauk… Iya kaliii… Hey, udahlah…” ujar Razta.
“Maaf deh, Mel… jangan marah ya…” ucap Aldi. Melly tak menjawab.
. . .
“Kalian gak pada pesen?” tanya Aldi pada teman-temannya. “m… kita nitip aja deh… ya ?” sahut Defri yang sedari tadi diam dengan Fanes. “Kita juga…” lanjut Razta, sambil menunjuk ke arahnya dan Gladies, sang pacar. “Hhh, oke-oke… gue pesenin… Mel, lo mau pesen apa ?” tanya Aldi pada Melly yang terlihat kesel.
“Seteraaah…” jawabnya lesu. “Oh, ya udah… bentar ya…” kata Aldi.
“Lo marahan ya ma Aldi ?” tanya Fanes, setelah yakin bahwa Aldi telah pergi.
“Tauk ah…!”
“Iya, marah ntuh… Kenapa sih, Mel ?” Gladies nyambung.
“Gak apa…” jawab Melly.
“Mel… lo kenapa sih? ketawa donk… jalan-jalan ini kan yang ngadain lo…” ucap Razta. Melly tersenyum kecil. Lalu… “Nih… pesenannya… Ini pesenan lo tuan putri…” kata Aldi pada Melly. “Dimakan ya…” Melly tersenyum simple. “Di, jadi kan kita ke kos-kosan lo ?” tanya Defri.
“Ya, up to you…” jawab Aldi, “Ah, jadi-jadi…!” sahut Razta.
“Cewek-cewek mau dikemanain ntar ?” ujar Defri, sambil mengelap keringatnya. Mereka berpandangan, “ikut aja gih… ya ? gak apa kok…” tambah Aldi. “Ya udah, sip deh…”
. . .
            “Lo kenapa sih, cuma gara-gara film tadi aja, ngambek…” kata Aldi sambil menyetir mobilnya. Keempat temannya tertidur di belakang. Melly tak menjawab. “Mel… jawab donk… gak punya mulut ?!” tanya Aldi lagi, saking kesalnya.
Melly menatapnya sinis. “Lo kalo ngomong jangan asal ceplos ya !!” ucapnya.
“Makanya jawab… Masa gara-gara tadi jadi ngambek 100% ini…?” tanyanya.
“Abiz, lo nya gitu…” gumam Melly.
“Gitu kenapa ? Iya, gue tau, lo tuh suka horror… Tadi kan gue cuma bercanda…” jawab Aldi dengan santainya. “Jangan marah lagi ya…?” lanjutnya. Melly tersenyum. “Gitu donk… kan jadi tambah cantiik…” kata Aldi. Mereka berhenti di lampu merah. Aldi merasa ada orang di samping mobilnya, maka dia membuka jendela.
“Ssst… hey, ngapain disitu?” tanyanya pada orang itu, cowok. Dan orang itu menoleh, “Aldi… Eh, mending mobil lo mundur bentar deh… Mumpung sepi di belakang…” katanya, tak lain adalah teman se-kos Aldi, Baim. “Eh, lo Im… Emang kenapa ?” tanya Aldi. “Barang gue lo injek…!” gerutu Baim sambil menunjuk bawah mobil Aldi.
“Apaan sih ?” tanya Aldi penasaran. Melly celingak-celinguk.
“Duit ! 100rb…!” jawab Baim.
“Ya ampuun… Lagian lo, ngapain naruh duit dibawah situ…? Kurang kerjaan aja…” sahut Aldi, lalu memundurkan mobilnya sedikit. “Tadi duit gue jatuh… Nah… Daritadi kek…” lanjut Baim, mengambil uang itu, dan “Lo mau balik ke kos kan ? Gue numpang donk…!” tanyanya. “Hhh… ya udah… Di belakang ya… Sono” tambah Aldi. “Siip…” gumam Baim lalu membuka pintu mobil bagian belakang. “Siapa sih ?” tanya Melly kemudian, “Temen… sekamar kos… Baim namanya…” jawab Aldi lalu tersenyum. Sesampainya di tempat kos…
            “Bentar, gue liat dulu ya… mother kos ada apa gak…” Aldi berbisik. Yang lain menunggu di mobil. Tak lama kemudian, “Yes ! Beliau lagi pergi…! Kalian bisa nginep disini… Yuuk…” kata Aldi, lalu yang lain ikut turun dari mobil. “Tempat kos lo lumayan gede ya…” gumam Razta. Mereka perlahan memasuki ruang tamu dan kemudian masuk ke kamar Aldi dan Baim.
“Huh, so… kita tidur dimana ?” tanya Gladies. “Kamar mandi…” jawab Aldi, “ya dikasurlah… Cewek-cewek tidur diatas… Biar kita dibawah… Oke ?” lanjut Aldi.

“Pelan-pelan ngomongnya… Ntar penghuni yang lain pada bangun…” bisik Baim.
            Mereka kemudian menata barang-barangnya. Sesaat kemudian, “Nih, kacang… hehehe…Sorry, makanannya limit…” kata Baim, lalu duduk didekat jendela. “Oh, ya… kenalin nih… temen sekamar gue… Baim namanya…” ujar Aldi. Mereka tersenyum. Duduk bersama, melingkar, sambil melahap kacang. “Gila, tadi tuh film, lumayan nyeremin ya…? Baru kali ini, gue lihat film yang seserem itu…” kata Defri. “He’e… Bagus banget…! Jadi kepengen gue…” lanjut Razta. Melly memandangnya.
Kemudian, “Film horror ya…?” tanya Baim. Aldi, Fanes dan Gladies mengangguk.
“M… Kalian mau nerima tantangan ?” tanya Aldi, “Tantangan apa ?” Melly balik tanya.
“Jangan yang aneh-aneh…!” kata Gladies dan Fanes bersamaan. “Gini… Dideket sini… ada rumah gede, eh… gedung tua… udah lama sih gak kepake… Kata orang-orang, tuh gedung ada penunggunya-” ucap Aldi, dengan tampang serius. “Semua tempat ada penunggunya…” sahut Melly.
“Bentar beb… Kita semua taruhan,” lanjut Aldi. “Apa ?” tanya Razta. “Kita ke gedung itu… Yang bisa tahan di gedung itu 2 jam aja deh gak usah lama-lama, dia menang…” ucap Aldi. “Tuh kan yang aneh-aneh…” gumam Fanes. “Kalo gedung berhantu 10 menit aja udah KO…!” sahut Gladies. “Kalo gak ikut juga gak apa-apa… Tapi, hadiahnya… bagi para pecundang alias yang kalah, kudu nraktir yang menang selama 2 bulan !” tambah Aldi. “Traktir apa ?” tanya Defri. “Terserah…” “Gue boleh ikut, kan ?” Baim nyambung.
“Tentu… deal ?”
“Oke, deal…” ucap mereka bersamaan. “Lo ikut kan Mel? Sekalian nunjukkin kalo lo emang berani…” tanya Aldi. “Boleh…” jawab Melly dengan santainya.
. . .
            Sehari kemudian… Tepat jam 11.45 malam, mereka telah berkumpul didepan gedung berhantu itu. “Yakin nih ?” tanya Gladies. Tak ada yang menganggapi. “Yuuk masuk…” ajak Aldi. “Eeiits, Melly… Fanes… Kita foto dulu yuuuk… Buat kenang-kenangan kalo kita ntar yang bakal menang… Melly, hp lo donk…” kata Gladies bersemangat.
“Tapi kan kalo anak cewek, gak boleh… foto bertiga…” ujar Melly.
“Halah… Cuma mitos…!” jawab Gladies.
“Tapi ntar yang tanggung lo, ya…” sahut Fanes.
“Beres !! Udah deh kalian kok jadi takut gini sih!” Lalu mereka bertiga berfoto tepat didepan gedung. Cekreek. Ketika mereka masuk, seseorang mengintip dari balik pohon.
            “Ya udah, kita plencar aja… Defri, lo ma Fanes ke kiri… Aldi, ma Melly n Baim lurus… Gue, ma Gladies ke kanan… Oke ?” ucap Razta, merangkul Gladies. Petualangan dimulai.
            Melly merasakan bulu kuduknya berdiri. “Cuma disini sih, gak ada apa-apanya…” celetuk Aldi. 30 menit berlalu, Melly, Aldi dan Baim sampai pada 2 lorong didalam. “Kayaknya kita lebih baik ke kanan aja deh…” kata Melly. “Kayaknya… Kalo menurut gue ke kiri… Lebih meyakinkan… Lo pilih mana, Di ?” tanya Baim, tak sependapat dengan Melly.
Aldi memandang Melly, “terserah kalo lo mau ikutin kata-katanya dia… Nih, ya, beb… jalan ke kanan itu lebih baik dari kiri…” ucap Melly, sewot.
“Gak, Di… ke kiri aja… Lebih terang disana…” ujar Baim, gak kalah sewot.
“Terang apanya ?! Jelas-jelas disitu gelap… Lebih terang kanan !!” lanjut Melly.
“Udah donk !! Jangan berantem…! Lebih jelas lagi… Keduanya tuh sama-sama gelap, tau gak ?!” Aldi mengomentari.
“Terus kita kemana ?” tanya Melly. “Gini aja… Kita plencar…! Gue ke kiri… Lo ke kanan ma Melly…” tambah Baim yang langsung pergi begitu saja. “Heh ! Baim !! Ckck, ya udah deh… yuuk!” ucap Aldi pada Melly, memasuki lorong kanan.
            “Def… balik yuuuk… Gue dah gak betah nih… Gue takuut !” gumam Fanes, “makanya, lo jangan jauh-jauh dari gue…” jawab Defri, menggandeng tangan Fanes. Tiba-tiba…”Eh, say… Kayaknya tali sepatu gue ada yang nginjek deh… di belakang… Gue takuuut…” gumam Fanes lagi, tangannya merinding.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More